Sudah lama saya mendengar cerita bahwa kota Malang menyimpan berbagai macam sajian makanan yang bermacam-macam. Berbagai olahan makanan tersedia di sana, bisa dikatakan Malang setara dengan kota Jogja dan Bandung yang memiliki berbagai macam makanan enak. Tapi karena jarak yang cukup jauh dan tidak ada saudara di Jawa Timur membuat saya selalu menunda keinginan untuk berburu kuliner disana.

Akhirnya kesempatan pergi ke Malang datang juga saat teman-teman kuliah S2 MMI UGM Yogyakarta mengadakan piknik berkedok studi banding ke kota Malang pada 5-7 Juli 2010. Horeeeee.. kesempatan ini tidak boleh saya sia-siakan! Peralatan perang seperti kamera, buku catatan, dan tentunya perut sudah saya siapkan dan latih jauh-jauh hari. Targetnya sih bisa mencoba makanan yang digoreng, berkuah, dan bersantan.

Baiklah, cerita perjalanan nggak usah saya ceritakan ya.. misal tertarik sih bisa baca di blog pribadi saya aja. Ntar kalo saya tulis disini bisa dipentung om admin hihihi…

Bakso Kota Cak Man

Setelah melakukan perjalanan 12 jam dari Jogja-Malang melalui jalur Surabaya, saya pengen makan sesuatu yang panas. Maka pilihan saya adalah mencoba bakso, nah Malang mempunyai Bakso Kota Cak Man yang cabangnya sudah dibuka hampir di setiap kota di Jawa. Selama saya di Semarang atau Jogja, blom pernah mampir ke bakso ini, tapi berhubung saya berada di Malang, maka wajib hukumnya untuk mencoba bakso ini.

Bakso Kota Cak Man

Sistem pemesanan bakso ini cukup unik, yaitu kita mengambil sendiri bakso yang akan kita pesan. Nah harga yang kita bayar sesuai dengan isi yang kita masukkan ke dalam mangkok. Pilihannya cukup banyak, mulai dari bakso goreng, siomay goreng, mie putih, mie kuning, pangsit goreng, dan lain-lain. Beberapa teman bahkan karena saking laparnya mengambil semua isi sehingga butuh 2 mangkok untuk menampungnya.

Tips dari saya, pilih 3-5 macam saja karena ukurannya cukup besar dan saat ditambah kuah oleh pelayannya maka mangkok kita terkesan penuh. Selain itu untuk menghemat perut dan duit :p

Total kerusakan saya hari itu Rp 14.000 (empat-belas-ribu-rupiah) sudah termasuk air mineral botol. Komposisi bakso saya adalah : bakso goreng, bakso daging, bakso jumbo, siomay, pangsit goreng, dan mie kuning. Kuah yang panas membuat kening keringetan dan mencerahkan mata hehehe. Oh iya, saya tidak menambahkan saos, kecap, ataupun sambal disaat mencoba semua makanan supaya tau rasa aslinya.

Menurut saya, rasanya masih kurang nendang dibandingkan dengan Bakso Kepala Sapi, tapi tentunya masih diatas dibandingkan bakso sapi biasa. Jadi untuk saat ini gelar bakso terbaik menurut saya masih dipegang oleh Bakso Kepala Sapi

Ayam Goreng Pak Sholeh

Saatnya mencari makan malam! Setelah berdiskusi sebentar dengan teman yang asli Malang, sebut saja Ms N maka kita memutuskan untuk menuju ke rumah makan ayam goreng Pak Sholeh yang legendaris. Oh iya, Ms N ini yang menjadi guide kami selama di Malang, banyak informasi yang saya dapatkan seputar kota Malang. Mencari bakso di Malang lebih mudah daripada mencari nasi goreng.

Rombongan kami tiba di rumah makan Ayam Goreng Pak Sholeh sekitar jam 18.30. Ternyata rumah makan ini cukup besar dan ramai. Ms N tidak membawa kami ke pusatnya karena terlalu jauh dan tidak sejalan dengan rute jalan-jalan malam itu, tapi Ms N menjamin rasanya tidak kalah dengan yang dipusat. Struktur bangunannya berbentuk rumah, namun di dalamnya dibuat semacam sekat-sekat kubikel lesehan. Karena kami datang dengan 2 mobil, maka dibutuhkan 2 kubikel untuk menampung kami.

Menu yang ditawarkan cukup bervariasi, diantaranya ayam goreng dan bakar, gurame goreng dan bakar, pecel lele, tempe bacem, sambal terong, cah kangkung. Sayangnya saat itu yang tersedia tinggal ayam goreng dan gurame goreng. Yang lain sudah ludes terjual. Akhirnya kami kompak pesen ayam goreng supaya tidak terlalu lama menunggu. Oh iya untuk minumnya saya pesan Es Beras Kencur yang bikin perut anget.

Ternyata sodara-sodara, pelayannya sangat cepat! 14 porsi makanan dan minumannya bisa disajikan kurang dari 15 menit! Kami saja cukup kaget saat makanan datang, kirain pesenan orang lain.

Ayam Goreng Pak Sholeh

Rasa ayam gorengnya cukup enak, gorengannya pas dan seperti ayam goreng jogja yang agak manis. Sayangnya potongannya kecil buat saya, jadi saya ngambil satu potong lagi entah itu jatah punya siapa hahaha.. Nasi disajikan di wakul dengan kondisi masih panas dan mengundang selera makan. Sambalnya juga disajikan di cobek, kalo ndak salah namanya sambal oki yang rasanya cukup pedas. Lalapannya terdiri dari timun, kacang panjang, dan daun kemangi. Total kerusakan malam itu Rp 15.000 (lima-belas-ribu-rupiah).

Soto Babat dan Krengsengan Daging Sapi

Besoknya, setelah seharian jalan-jalan ke berbagai obyek wisata di kota Malang, kami merasa cukup kelaparan. Ms N kali ini tidak memiliki ide untuk mengajak kami makan dimana, akhirnya mampir dulu ke masjid UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) yang megah. Nah, sehabis shalat Ms N ingat bahwa dia pernah makan di warung depan masjid tersebut, menu yang ditawarkan juga cukup bervariasi. Akhirnya kami pun beringsut menuju kesana karena rasa lapar sudah tak tertahankan lagi. Ternyata, terdapat beberapa warung yang menawarkan menu yang bervariasi. Saya dan beberapa orang akhirnya memilih ke Warung Rezeqi yang menyediakan Soto Babat dan Krengsengan Daging Sapi.

Soto Babat

Saya memesan Soto Babat, karena belum pernah mencobanya hehehe.. Ternyata sotonya berbeda dengan soto Semarang yang berkuah bening, soto babat ini berwarna agak kehitaman dan kuahnya agak asin, mungkin memang khas makanan jawa timuran yang cenderung asin atau mungkin juga berasal dari santan. Komposisinya terdiri dari potongan daging babat yang cukup banyak dan besar, kemudian ada topping kol dan toge yang banyak juga.

Kita bisa meminta penyajian campur atau pisah. Maksudnya, kalo pisah artinya nasi dan soto disajikan dalam piring terpisah, kalo campur dijadikan satu. Ternyata porsi yang cukup besar ini membuat perut saya tidak mampu lagi untuk mencoba menu yang lain. Apalagi setelah tau ternyata Krengsengan Daging Sapi itu merupakan makanan besar, bukan cemilan. Sepertinya saya harus bersabar untuk mencobanya di lain kesempatan.

Krengesengan Daging Sapi

Pucuk ditiba ulam tiba, saat perjalanan pulang ke Jogja kami beristirahat di rumah makan jawa timuran. Ketika membaca menu terdapat Krengsengan daging yang tadi siang belum sempat saya coba. Langsung saja saya memesan daripada penasaran dibawa sampe rumah hehehe..

Hmm.. ternyata menu ini berbeda dengan bayangan saya, karena disajikan berkuah. Pikir saya akan berbentuk daging goreng tapi ternyata bukan. Rasanya standar saja atau mungkin karena faktor warung yang tidak terkenal saja. Dagingnya cukup lembut dan mudah dipotong dengan sendok garpu, ketika dikunyah juga cukup nyaman tapi berpotensi nyangkut di gigi. Tidak ada komentar khusus mengenai menu ini.

Akhir kata

Yak, begitulah sekilas laporan saya dari jalan-jalan ke kota Malang. Sebetulnya kami sempat dijamu nasi rawon di rumah Ms N, namun karena faktor kelaparan malah lupa motret hehehe.. Yang jadi pembeda rawon di Malang dan Semarang itu, di Malang ga pake daun melinjo. Tapi rasanya sama saja.. rasa rawon hihihi

Selamat Makan!