Postingan ini kelanjutan dari petualangan saya di SOLO kemarin.

Tanggal 5-6 Juni 2010 kemarin karena sudah mampir di Solo untuk acara SOLO (Sharing Online lan Offline), rasanya rugi kalau tidak berburu kuliner di Solo. Selain Solo terkenal sangat aktif kegiatan kulinernya dari pagi hingga malam hari. Baru di Solo saya menemukan tukang sate kambing mulai aktif dari jam 6 pagi, jadi orang Solo bisa sarapan dengan sate kambing dari jam 6 pagi.

Karena dari pagi hingga sore sudah ada acara SOLO di Gedung Graha Solo Raya, perburuan dimulai sebelum jam makan malam. Teman seperburuan kali ini Wedhouz. Kita tahu bahwa oleh panitia sudah disiapkan makan malam tetapi rasanya kok sia-sia kalau mampir Solo tanpa menikmati kuliner khas Solo.

Nasi Liwet

Untuk perburuan pertama kita berjalan-jalan di sepanjang Jl. Slamet Riyadi didekat penginapan. Kata Wedhouz Solo terkenal dengan warung ala eplek eplek (sepertinya spellingnya harus ditanyakan lagi, maklum bukan orang jawa), pokoknya dimana ada ruang kosong ada warung yang bisa nempel disitu. Ternyata didekat penginapan kita bisa menemukan Nasi Liwet.

Nasi liwet adalah makanan khas kota Solo. Nasi liwet dimasak gurih (biasanya dengan kelapa) hampir mirip dengan nasi uduk dan disajikan dengan suiran ayam, jipang (sayur labu siam) dan areh (semacam bubur gurih dari kelapa).

Katanya sih warga Kota Solo biasa menyantap nasi liwet kapanpun dari pagi hingga malam hari. Biasanya nasi liwet ini dijajakan keliling dengan bakul yang digendong oleh penjualnya. Oh iya, kenapa di depan warung spanduknya ada tulisan cabang keprabon? Karena ternyata Keprabon merupakan tempat jualan nasi liwet yang paling yahud di Kota Solo dan hanya berjualan pada malam hari.


Menyantap nasi liwet Bu Wongsolemu ini terasa lebih nikmat karena disajikan lesehan di pinggir Jl. Slamet Riyadi. Apalagi suasana Kota Solo lebih sejuk daripada Semarang, jadi membuat perut lapar terus hihi~


Tidak lama setelah dipesan nasi liwetpun datang. Porsinya tidak terlalu besar, pas untuk mengganjal perut sebentar menahan rasa lapar. Kombinasi nasi gurih yang hangat, suiran ayam yang sudah dibumbui, sayur jipang dan telur bacem sungguh terasa sangat nikmat. Dan harganyapun tidak mahal, kelihatannya sekitar 4.000 – 5.000 rupiah.

Timlo

Perburuan II, saya berburu Timlo Solo yang sudah sangat kondang sebagai makanan khas Solo. Teman perburuan kali ini adalah teman-teman dari Cah Andong, Jogja. Perburuan Timlo dilakukan setelah acara Sharing Komunitas sewaktu makan malam. Jadi sebelum makan malam SOLO berburu nasi liwet dan sesudah pulang berburu Timlo, benar-benar tukangmakan khan?

Tujuan kali ini adalah Timlo Maestro. Timlo merupakan hidangan berkuah bening. Biasanya kuah ini kuah kaldu yang sudah diolah, jadi setiap warung timlo pasti punya ke-khas-an rasanya sendiri-sendiri. Isinya ada sosis ayam yang dipotong-potong (sosis ala solo bukan sosis biasa), telor ayam pindang, irisan hati serta ampela ayam. Kalau tidak suka jeroan pembeli juga bisa memilih isi timlo yang diinginkan.


Timlo disantap dengan nasi putih yang ditaburi bawang goreng. Untuk timlo maestro rasa asinnya sangat kuat terasa, jadi kalau tidak terlalu suka dengan rasa asin sebaiknya jangan mencoba warung timlo ini. Tapi kalau untuk saya sih pas-pas sajah karena setiap warung pasti punya rasa yang khas dan berbeda.

Untuk harga, timlo dibandrol dengan agak mahal. Untuk 1 porsi lengkap saya tadi, dibandrol dengan harga 15.000 rupiah. Tapi memang harganya sepadan. Setelah pulang ke Semarang saya masih terbayang-bayang ingin menikmati timlo lagi.

Selamat berburu kuliner !