Hungaria dan Paprika
May 04
Resto absinth, budapest, hungarian cuisine 15 Comments
Hihihihi postingan pertama saya di blog tukangmakan
*lebay*
Wiken kemarin saya dan beberapa teman pergi ke Budapest, Hungaria. Ini adalah kali pertama saya pergi ke Eropa Timur, jadi gak ada bayangan sama sekali tentang jenis makanan dan selera penduduk lokal. Dari pengamatan kami (halah) di pasar-pasar tradisional, Hungaria ini terkenal dengan produksi paprika nya. Sepertinya makanan mereka pun tak jauh-jauh dari paprika ini. Toko-toko pun banyak yang menjual souvenir berupa paprika bubuk yang dikemas cantik sedemikian rupa.
Makanan pertama yang saya coba adalah fillet dengan saus paprika. Gak cuma pork yang disediakan di restoran ini, ada juga bebek, angsa, dan tentunya sapi. Pork fillet medium-grilled ini disajikan dengan potongan kentang yang direbus dengan cream dan cottage cheese, lalu disediakan juga saus paprika dalam cawan. Saus paprikanya terasa sekali, seperti merica bubuk tapi ada sensasi manisnya juga karena dimasak dengan cream. Cream dan cottage cheese yang saya kira akan terasa eneg ternyata justru menyeimbangkan rasa pedas dari saus paprika. Makanan ini kami coba di restoran Dunaparti Matroz Kocsma, Halasz Utca 1, 1011 Budapest. Salah satu pelayannya ada yang mirip Bruce Willis tapi rambutnya gondrong ala McGyver

Makanan kedua yang saya coba adalah Catfish Stew. Seperti namanya, menu ini menghadirkan ikan lele yang dikukus. Konon, ikan lelenya berasal dari sungai Danube yang membelah regio Buda dan Pest. Daging ikan lele ini dipotong dadu, disajikan dengan pasta berbentuk pita dan saus krim seperti pada spaghetti/macaroni carbonara. Rasanya tidak terlalu spicy dan alih-alih paprika seperti kebanyakan masakan Hungaria, masakan ini dibumbui saus merica hitam. Tempat kami makan kali ini adalah restoran Vörös Postakocsi yang berlokasi di jalan Raday. Rasa makanannya sebenarnya enak, sayang sekali kami harus menunggu satu jam. Keburu gak lapar lagi, dan setelah makanannya tiba pun pelayan lupa mengantar pisau dan garpu ke meja kami

Sekedar informasi, jalan Raday ini cukup terkenal dengan restoran-restoran yang ada di kanan kiri jalannya. Harga makanan di Budapest ini relatif tak terlalu mahal, kurang dari 4000 Huf (Hungarian Forint), atau kurang lebih 13 euro kita sudah bisa mendapatkan main course dan minuman, bahkan appetizer atau dessert
Kalau mau mencari daerah tempat makan yang lain ada juga di sepanjang jalan Vasi Utca.
Malam terakhir di Budapest, kami pergi ke suatu bistro di jalan Raday juga, mencoba minuman yang langka dijual di kebanyakan restoran ataupun bar dan pub : Absinth. Kalau ada yang pernah nonton film Eurotrip, pasti tahu minuman ini
Absinth adalah alkohol yang didapat dari distilasi tumbuhan. Warnanya hijau muda dan nampaknya segar seperti Mojito
Kesan pertama saya mengendus absinth ini adalah, baunya seperti minyak telon. Hahaha. Didorong rasa penasaran saya coba minum seteguk.
Oh. My. God. Tenggorokan tercekat seperti terbakar dan saya seperti terdorong membuka mulut sedikit ; bahasa jawanya ngowoh
setelah itu bibir terasa kering tapi jadi ingin minum lagi. Malam itu saya hanya minum 4cl absinth karena alkoholnya cukup tinggi, bisa sampai 75%. Jadi hati-hati ya minumnya, katanya terlalu banyak minum absinth bisa menyebabkan halusinasi
Harga 4cl absinth di tempat ini sekitar 800 Huf (kurang dari 3 euro).

Lounge tempat kami minum ini namanya Jaffa Bistro. Tempatnya cozy dan di malam hari ada live music. Ada fasilitas wi-fi gratis juga. Tak hanya minuman beralkohol, ada juga minuman non-alkohol dan makanan ringan seperti pasta. Kalau ke bistro ini perlu mencoba ice coffee, kopi dingin dengan es krim dan whipped cream dalam porsi besar.
Oh iya satu lagi makanan khas Hungaria, yaitu Goulash Soup. Sup ini biasanya disajikan sebagai starter makan malam atau sekedar untuk sarapan saja bersama roti. Apa saja yang ada di goulash soup? Daging (biasanya sapi), potongan kecil wortel, kacang merah dan kentang dalam kuah kental spicy.
Segini dulu pengalaman saya mencicipi kuliner Hungaria. Next destination : let’s see
Twitter
Facebook
Flickr
RSS

May 04, 2009 @ 03:19:34
Absinthe! *ngiler*
May 04, 2009 @ 03:21:14
Hahhaha…saya sangat terkesan dengan bahasa NGOWOH-nya *jawa mode on*
May 04, 2009 @ 10:50:47
*ngowoh beneran*
May 04, 2009 @ 13:19:43
*drolling*
May 04, 2009 @ 13:21:06
mantabhpun
May 04, 2009 @ 14:35:30
:’( jadi pengeeeeennn absynth nya
)
May 04, 2009 @ 16:37:48
alkohol tuh cha. haram.
tapi kalo banyak jadi harum sih.
(ninja)
May 06, 2009 @ 20:50:06
*ndlongop*
May 07, 2009 @ 13:16:24
Goulash.. kalo di Surabaya namanya Sup Merah hehe..
lam kenal buat Christin..
May 07, 2009 @ 17:46:15
woogghh ada inijie ! salam kenal juga ya
*salaman malu-malu*
May 15, 2009 @ 16:42:44
Pantes.. setelah beberapa sloki si absinth itu – tidak heran bila semua mamak2 dipasar itu dirimu bilang cantik-cantik
Sama perihalnya juga dengan Romania… udah pernah kesana? Coba deh ke Transilvania – kamb=pungnya si Mister Dracula
Jun 05, 2009 @ 11:22:15
*pingin minum absinth*
*beli alcohol 70%*
Jun 11, 2009 @ 13:04:30
sing jelas aku ngaku kalah wis, lek wis crito soal Pork
Dec 02, 2009 @ 22:46:10
I am definitely bookmarking this page and sharing it with my friends.